Sabtu, 17 Oktober 2015

Aku, Kamu, dan Sampah



Aku, kamu, dan sampah
By : Isni PS “Ceswira”

Buat kamu yang cowo terus ketemu cewe cantik bak supermodel yang tetiba minta tolong sama kamu buat ngingetin dia segala hal dari mulai mau tidur sampe dia bangun tidur. Atau kamu yang cewe ketemu cowo keren, sholeh yang tetiba peduli sama kamu yang tiap hari kontekin kamu tanpa bosen dan sampe pada akhirnya dari dua kasus ini terciptalah rasa nyaman dan suatu kebiasaan baru yang tadinya ga dilakuin tapi malah akhirnya jadi rutinitas yang wajib bin kudu buat dilakonin tiap detiknya *eh awas baper* heu heu.

Eh gataunya tiba-tiba pas udah nyamaaaaaan banget, si dia ngilang bak ditelan bumi dan tak muncul lagi di peradaban *ceilah* seketika langsung melow terus berapa ada yang kopong, layaknya puzzle yang kehilangan potongan puzzlenya. Kalo kata Ari Lasso di lagunya gini liriknya “Hampa terasa hidupku tanpa dirimu..” *weyaaaa tisu mana tisu* hahaha xD
Sekarang kita analogiin ini sama hal yang lebih penting, sampah misalnya.

Coba deh sekarang mulai dipikirin tuh, ketika suatu ketidakpedulian bisa menyebabkan hal-hal negatif yang ga terduga. Ketika sampah kita biarin ngegeletak begitu aja di lantai, berserakan ga jelas, ngerusak pemandangan indah yang ada, bukan? Ga cuma pemandangan aja yang jadi rusak, imun kita pun bisa ikut rusak karena sampah itu. Banyak bakteri-bakteri dan virus yang hidup dan bergentayangan di sekitar sampah, sampe akhirnya kita ada di lingkungan yang sampahnya cuma secuil pun secara ga sadar makhluk-makhluk astral berukuran mikro itu masuk ke tubuh kita dan perang sama protector (imun) kita. Kalo protector kita ciut, alhasil banyak rasa-rasa aneh yang dirasain sama tubuh kita. Kalo protector kita menang? Bisa jadi si makhluk astral itu emang bener-bener tewas dan keluar secara terhormat dari tubuh kita lewat hasil-hasil ekskresi tubuh kita.

Nah, yuk mulai dari sekarang peka sama lingkungan sekitar kita, mulai dari hal yang sederhana aja kayak sampah. Karena dari suatu hal yang kecil itu bisa bikin suatu perubahan besar yang insyaaAllah bakal bermanfaat di masa mendatang :D

Salam satu KEPAL!
Salam Lestari! Salam Konservasi!

Rabu, 28 Januari 2015

Rindu Jernihmu

Cisadane Tercemar, Salah Siapa?







Ciputat- Carita (Calon anggota RANITA UIN Jakarta) 2014, Senin(19/01) menginvestigasi TPA Cipeucang atas terjadinya ketidaksesuaian pengelolaan sampah dengan perencanaan sebelumnya yang mengakibatkan tercemarnya aliran sungai Cisadane.
Carita (Calon Anggota Ranita) belakangan ini melakukan penelitian ke TPA Cipeucang. Hasil penelitian yang diperoleh dari berbagai instansi pemerintahan seperti: BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah), DKPP (Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman), BBWSCC (Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane), Kantor Kelurahan Kademangan dan Serpong, bahwa IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) TPA Cipeucang belum mendapat IPLC (Izin Pengelolaan Limbah Cair) dari BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah). Hal tersebut disampaikan oleh  Ibu Lila staff bagian WASDAL (Pengawasan Dampak Lingkungan) BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah).
Dalam kegiatannya kelompok aktivis lingkungan ini menuntut ditingkatkannya perbaikan pengelolaan TPA Cipeucang karena air lindi yang telah mencemari sungai Cisadane  seperti disengaja dan dibuat jalurnya serta bau gas metana yang tidak dimanfaatkan seperti apa yang sudah dikonsepkan mengakibatkan pencemaran udara di wilayah sekitar TPA.
Ketinggian sampah yang ada di TPA Cipeucang saat ini berkisar 5-6 meter karena TPA Cipeucang mempunyai luas wilayah sekitar 2,5 Ha dan total sampah yang tertampung di TPA Cipeucang  sudah hampir 70% dari luas wilayahnya tetapi pemerintah sudah menambah luas wilayah TPA Cipeucang menjadi 5 Ha (belum dioperasionalkan). Namun wilayah tambahan tersebut sangat dekat dengan aliran sungai cisadane. Hal ini menyebabkan produksi air lindi semakin banyak sehingga terjadi kebocoran karena IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) TPA Cipeucang belum berjalan secara optimal karena sistem yang dibuat itu beda dengan pengoperasionalannya. Air lindi adalah licin dan lendir (Bang Mukri-aktivis WALHI, 2015). Pengoperasionalan Sanitary Landfill di TPA Cipeucang hanya awal-awal tapi sekarang sudah seperti sistem Open Dumping sehingga mencemari sungai Cisadane yang letaknya di sekitar TPA tersebut. Yang mencemari sungai Cisadane yaitu air lindi (leachate) merupakan air dengan konsentrasi kandungan organik dan anorganik yang tinggi. Terbentuk dalam landfill akibat adanya air hujan yang masuk dalam landfill (penampungan sampah). Air ini berbahaya karena mengandung senyawa anorganik (unsur logam) yang tinggi seperti Zn (seng), Hg (raksa), dan Pb (timbal), jadi sangat berbahaya kalau air lindi mencemari aliran sungai Cisadane.  
BISA LEBIH TERPADU
Penumpukan sampah yang bertambah tiap harinya yaitu sebanyak 700m kubik dapat mengancam kesehatan warga sekitar TPA. "Sebenarnya jika sampah dipilah-pilah sebelum masuk ke TPA dan didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat, dapat menghasilkan nilai ekonomi seperti penerapan yang dilakukan oleh TPA Bantar Gebang yang menghasilkan  200 juta rupiah per bulan", ujar bang Mukri aktivis WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)  Eksekutif  Nasional. 200 juta tersebut dihasilkan dari retribusi truk sampah yang keluar masuk TPA Bantar Gebang, pengelolaan sampah seperti daur ulang, pembuatan pupuk dan lain-lain. Dilihat dari kebocoran air lindi, kalau air lindi tidak bocor dan dimanfaatkan dengan baik seperti menggunakan metode Biofilter dan wetlands
Metode Biofilter merupakan salah satu metode sederhana yang dapat digunakan untuk mendegradasi parameter-parameter pencemar yang ada pada air lindi. Metode ini berprinsip pada metode pertumbuhan terlekat. Bakteri pada air lindi akan terlekat pada biofilter dan membantu biofilm sebagai tempat hidupnya. Biofilm inilah yang akan menahan bakteri agar tidak ikut terbawa efluen sehingga dapat mendegradasi air lindi secara kontinu. 
Metode wetland merupakan sistem yang termasuk pengolahan alami, dimana terjasi aktivitas sedimentasi, filtrasi dan biologis karena aktivitas mikroorganisme dalam tanah dan aktivitas tanaman. Aktivitas mikroorganisme maupun tanaman dalam penyediaan oksigen yang terdapat dalam sistem pengolahan ini, secara prinsip terjadi akibat adanya proses fotosintesis maupun respirasi.