Jumat, 24 Januari 2014

Padamu Kutitipkan Bidadari


Assalamu’alaykum..
Bismilahirrohmanirrohiim..
Postingan kedua, saya mengutip dari Novel "Hadiah Kecil dari Tuhan" yang isinya subhanAllah dan Insya Allah bermanfaat. Selamat membaca


 
Padamu Kutitipkan Bidadari
(Surat dari Ibu untuk Bidadari-Bidadarinya)
                Selepas shalat tahajud, Kak Hana tak langsung beranjak pergi. Sambil menunggu shalat shubuh, ia sempatkan untuk membaca Alquran. Sesekali butiran air matanya berjatuhan di atas Alquran. Lembaran demi lembaran Alquran telah Kak Hana baca, hingga terdengar samar adzan shubuh membangkitannya untuk segera membangunkan Salma untuk shalat shubuh berjamaah. Namun, saat ia mencoba bangkit dan berdiri, selembar kertas yang dilipat pun terjatuh ke atas sajadah. Setelah dibuka, ada sebuah nama yang tertulis “Teruntuk Bidadari-Bidadariku, Kak Hana dan Salma yang shalehah”. Kak Hana dan Salma pun mulai membaca.


                            Teruntuk bidadari-bidadariku, Kak Hana dan Salma yang shalehah.

Assalamualaikum wr. wb

Sebelumnya, Ibu memohon maaf yang sebesar-besarnya jika surat ini telah mengganggu kegiatan Kak Hana dan Salma yang sedang fokus menghadapi ujian masuk perguruan tinggi dan ujian nasional. Sebenarnya, sebelum Kak Hana dan Salma akan pergi ujian, Ibu ingin sekali menceritakan semuanya kepada kalian. Ya, Ibu ingin menceritakan kondisi ibu yang sebenarnya.

Tapi, keadaan waktu itu tidak memungkinkan untuk Ibu cerita pada Kak Hana dan Salma. Ibu sangat memakluminya. Ibu tidak mau mengganggu konsentrasi Kak Hana dan Salma.terutama Ibu tidak ingin apa yang sudah dihapalkan,semua pudar begitu saja. Tapi, maafkan Ibu tidak bercerita langsung kepada Kak Hana dan Salma.

Kak Hana, Salma… jujur, mengapa Ibu ingin sekali bercerita, karena Ibu sudah tidak kuat lagi menahan semuanya.
Ya, sudah hampir tiga bulan ini Ibu merasakan  sakit di bagian dada. Tambah lagi batuk Ibu yang tak kunjung sembuh. Pikir Ibu, mungkin penyakit ini adalah dari maag dan batuk biasa. Makanya bu diamkan sendiri dan tak pernah Ibu ceritakan. Tapi, setelah dicek ke dokter, tanpa sepengetahuan Kak Hana dan Salma, ternyata Ibu menderita jantung koroner akut.

Dada terasa tertekan, nyeri, hingga sesak napas disertai keringat dingin, rasa mual, atau pusing sering Ibu rasakan. Bahkan, nyeri tidak hanya di dada tapi juga di bagian tubuh lain.
Oh ya, kenapa tadi pagi Ibu tiduran, Ibu sedang merasakan sakit di belakang tulang dada sampai menjalar ke leher, bahu, hingga ke rahang. Selain itu, nyeri di dada bagian bawah atau ulu hati. Dan itu ternyata  bukan maag, tapi itu tanda gangguan jantung.

Kak Hana, Salma, kurangi makan yang berlemak dan mengandung kolesterol. Jangan lupa sempatkan untuk berolahraga. Kalian masih muda. Langkah kalian masih sangat luas sekali. Jagalah mimpi dan cita-cita kalian hingga menjadi kenyataan.

Kak Hana, Salma.. maafkan Ibu. Maafkan Ibu jika tidak berpamitan langsung. Mungkin ketika Kak Hana dan Salma membaca surat ini, Ibu sudah tidak ada lagi di sisi kalian. Ini bukan salah Kak Hana dan Salma. Ini adalah takdir. Dan ini sudah menjadi garis tangan Allah swt., untuk Ibu.

Kak Hana, Ibu hanya berpesan, jangan pernah kalian tinggalkan shalat lima waktu. Jagalah Salma, adikmu. Ingatkan jika Salma terlupa. Ibu yakin, Kak Hana bisa menjadi Kakak yang baik untuk Salma. Dan Ibu yakin, Kak Hana bisa menjadi kepala rumah tangga setelah kepergian Ibu dan juga Ayah.

Kak Hana, masih ingat ketika Ibu meminta Kak Hana keluar? Kemudian Raihan disuruh masuk oleh Ibu?
Ya, Ibu sempat berbicara dan menitipkan pesan singkat kepadanya. Ibu hanya menitipkan Kak Hana dan Salma untuk dijaga oleh Raihan. Dan Insya Allah, Raihan akan menjaga kalian.

Kak Hana, tolong sampaikan pada Raihan, “padamu ku titipkan bidadari!”
Kak Hana, terakhir.. doakan Ibu dan Ayahmu, ya! Ibu sudah kangen sekali dengan Ayah. Dan beberapa hari yang lalu, Ibu kembali bermimpi tentang Ayah. Ayah mengajak Ibu untuk jalan-jalan di taman yang penuh dengan bunga. Sayangnya, dalam mimpi itu..

O ya, Kak Hana dan Salma.. izinkan Ibu menghadap Illahi Robbi. Ikhlaskan Ibu. Jangan pernah bersedih. Jangan tangisi kepergian Ibu. Menangislah karena takut kepada Allah swt., teruslah istiqomah!
Akhirnya, Ibu akhiri surat pertama dan surat terakhir ini untuk Kak Hana dan Salma dengan ucapan.. Assalamu’alaykum.. Kak Hana.. Salma..
Laa ilaaha illallah…

Sahabat, semoga postingan kali ini bermanfaat dan bisa jadi bahan renungan buat kita ya 
"Tetaplah tersenyum, walau badai datang silih berganti. Yakinlah suatu saat nanti, semuanya akan berubah di tangan Tuhan menjadi balasan yang besar dan anugerah yang terindah untuk kita"
Wassalamu’alaykum 

(Hadiah Kecil dari Tuhan; Adi Rustandi, S,Pd..2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar